TRAUMA (cerpen)
Suara riuh terdengar dari kelas-kelas yang ia lewati. Seragam yang tak terpakai sebagaimana mestinya dan dasi yang tak berada pada tempat yang semestinya, Elvano Gibadesta Sagara berjalan dengan tanpa menghiraukan bisikan bisikin pujian dari siswi yang kerap kali terdengar ditelinganya. Siapapun pasti mengenal Elvano, cowok yang terkenal dengan ketampanannya dan segudang prestasi yang dimilikinya.
Brukk
Elvano tak sengaja menabrak seorang gadis yang entah sejak kapan dia ada dihadapannya, karena tadi dia tak melihat ada gadis disitu
"Akhh... " Pekik seorang gadis seraya meniup niup tangannya yang tak sengaja terkena tumpahan kuah bubur yang masih panas.
"Sorry, gue ngga sengaja. Ada yang luka?" Tanya Elvano khawatir. Dirinya benar-benar tak sengaja menabrak gadis itu.
"Gue ngga papa" Balas gadis itu seraya menggelengkan kepalanya pelan dengan kepala tertunduk
"Tapi itu tangan lo merah" Kata Elvano khawatir gadis itu kenapa napa karena bagaimanapun juga disini dia yang salah. Elvano mencekal tangan gadis itu, hendak membawanya ke UKS untuk mengobati tangan gadis itu. Gadis itu mendongak menatap wajah Elvano.
"L-launa" Elvano tercengang setelah mengetahui siapa gadis yang ada di hadapannya ini. Elvano langsung melepaskan cekalannya.
"Lo masih inget sama gue kan Na? Tanyanya dengan wajah yang masih terkejut
"Iya gue inget" Launa juga terkejut melihat siapa yang sedang berbicara padanya. Tetapi ia bersikap biasa saja untuk menutupi keterkejutannya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya satu sekolah dengan mantan kekasihnya dulu. Launa baru saja pindah dari luar negeri jadi ia tak tahu kalau Elvano juga satu sekolah dengannya.
Lepasin gue!" Pinta Launa
"Kenapa Na?" Tanya Elvano bingung. Elvano melepaskan pelukannya
Launa hanya menggeleng pelan, membuat Elvano semakin bingung
"Gue ke kelas dulu" Pamit Launa. Launa melangkahkan kakinya menuju kelas Xll IPA 2 tanpa menunggu respon dari Elvano
"Na tunggu, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Launaa!!" Panggil Elvano, tetapi Launa menghiraukan panggilannya dan tetap berjalan menuju kelas. Elvano bingung kenapa Launa bersikap seperti ini kepadanya, apakah Launa tak merindukan dirinya? Elvano berniat untuk mengejar Launa, tapi tiba tiba bel masuk berbunyi alhasil ia memilih untuk mengurungkan niatnya dan berjalan menuju kelasnya.
*****
Para siswa memasang wajah sumringah ketika mendengar bel istirahat berbunyi nyaring. Cacing di perut Elvano sudah berdemo meminta asupan. Elvano melangkahkan kaki menuju kantin dengan langkah gontai. Sesampainya di kantin ia menuju stand bakso dan memesannya. Saat sedang mengantri pesanan, matanya tak sengaja menangkap sosok Launa disampingnya. Launa juga sedang mengantre makanan.
"Na" Panggil Elvano pelan
Launa menaikkan satu alisnya pertanda ia bertanya apa
"G-gue... " Ucap Elvano gugup, Launa menatap Elvano bingung tak biasanya Elvano seperti ini jika berbicara dengannya.
"G-gue ka... " Ucapan Elvano terpotong saat ibu kantin memanggil namanya karena pesanannya sudah siap. Elvano sedikit merasa kesal. Ia pun menghampiri ibu kantin untuk mengambil pesanannya. Setelah mengambil pesanannya, Elvano berniat untuk menemui Launa. Tetapi ternyata Elvano tak melihat keberadaan Launa disana, kemana perginya cewek itu? Elvano mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Launa. Akhirnya ia melihat Launa telah berjalan keluar kantin. Elvano meletakkan semangkuk baksonya di meja dan berlari menyusul Launa.
"Launaa, Na" Teriak Elvano
"Launaa" Panggilnya lagi
Launa menulikan pendengarannya dan tetap melanjutkan langkahnya. Sebenarnya Launa tak ingin berkomunikasi dulu dengan Elvano tetapi Elvano malah mengejarnya.
"Na, lo kenapa sih? Lo ngehindar dari gue?" Tanyanya sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat berlari. Ia berjalan di samping Launa.
"Ada apa sih lo teriak- teriak manggil nama gue?" Tanya Launa kesal, ia malu jadi pusat perhatian karena Elvano berteriak kencang memanggil namanya
"Gue belum selesai ngomong tadi, kenapa lo main pergi aja?"
Tiba tiba Launa menghentikan langkahnya
"Ngga usah ganggu gue dulu, gue ngga mau ketemu lo!" Perintah Launa dengan wajah tertunduk kebawah, dirinya tak berani menatap wajah Elvano karena itu akan mengingatkannya pada luka di hatinya kala itu.
Launa kembali berjalan meninggalkan Elvano yang masih terpaku disana.
"NA GUE MAU NGOMONG SAMA LO!" Teriak Elvano kencang. Tetapi Launa lebih memilih menghiraukannya.
"Maafin gue Ra, luka gue belum sembuh. Gue ngga mau lo terluka karena sikap gue. Gue trauma Ra" Ucapnya dalam hati sembari menahan sesak di dadanya. Hati Launa sakit jika mengingat Elvano, orang yang ia percayai tidak akan melukai hatinya malah menggoreskan luka di hatinya dengan sangat dalam. Launa memang memanggil Elvano dengan Gara yang diambil dari nama belakangnya, Sagara.
"Ckk, lo kenapa si Na? Kemana diri lo yang dulu? Gue kangen sama lo Na" Gumam Elvano. Elvano pun pasrah, percuma ia berteriak sekencang apapun Launa tak akan mau mendengarnya. Ia menghela nafas pelan. Ia memilih untuk kembali ke kelasnya, tak peduli dengan bakso yang ditinggalkannya dimeja kantin.
*****
Jam-jam pelajaran ia lalui dengan melamun. Pikirannya terus bertanya apa penyebab Launa yang dulunya hangat menjadi dingin seperti ini. Tak terasa bel pulang terdengar nyaring ditelinganya, mengejutkan dirinya yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Gue kangen sama lo Na, apa lo juga ngerasain hal yang sama dengan gue?" Tanyanya dalam hati pada diri sendiri
Elvano berjalan lunglai menuju tempat parkir sekolah untuk mengambil motornya yang terparkir disana. Elvano mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ia harapankan ada disana, tetapi nihil ia tak melihat keberadaan Launa disana. Elvano menaiki motornya dan menarik gas di tangannya dan keluar gedung sekolah. Sesampainya didepan gerbang, Elvano menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah ada kendaraan atau tidak. Tak sengaja matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk di halte depan sekolah seorang diri. Ia mengenali siapa gadis itu, lalu Elvano melajukan motornya menghampiri gadis itu.
"Na? " Panggil Elvano seraya membuka helm Fullfacenya.
"Apa?" Tanya Launa cuek. Sebenarnya ia tak mau bersikap seperti ini kepada Elvano. Tetapi ia harus melakukannya. Ia beranjak dari tempat duduknya berniat untuk meninggalkan Elvano
"Na, jangan pergi dulu! Gue mau ngomong sama lo. Please Na! " Elvano mencekal tangan Launa yang hendak melangkahkan kaki meninggalkan dirinya
"Ckk, lepas!" Pinta Launa sambil berusaha melepaskan cekalan Elvano
"Na, gue mohon sama lo kasih gue kesempatan buat ngomong sama lo. Sebentar aja!"
"Gue ngga punya waktu buat manusia kaya lo!" Kata Launa menusuk
Bugh! Hati Elvano seolah mendapat pukulan bertubi-tubi ketika mendengar perkataan itu keluar dari mulut gadis yang dicintainya.
"Gue mohon Na, kasih waktu sebentar aja buat gue!" Pinta Elvano. Ia berharap Launa mau memberinya kesempatan untuk berbicara.
"Cepetan atau ngga, gue pergi!!" Kata Launa dengan wajah ia buat sejutek mungkin.
"Gue kangen banget sama lo Na, gue masih suka sama lo dan gue mau lo sekali lagi" Ucap Elvano membuat jantung Launa berdegup sangat kencang.
"Izinin gue buat masuk ke hidup lo lagi ya Na?"
"Gue mau memperbaiki semuanya, gue nyesel udah nyakitin lo waktu itu. Maafin gue Na"
"Kasih gue kesempatan Na, gue mohon sama lo!" Elvano berharap Launa mau kembali menjadi bagian dari hidupnya.
"Gue nyesel banget udah ninggalin lo waktu itu, gue tersiksa karena penyesalan itu Na" Kata Elvano menyesal
"Gue mau lo jadi tempat pulang buat gue Na. Lo mau kan Na? " Tanyanya dengan penuh harapan
"Haha, manusia bumi ternyata lucu ya Ra, dia yang pergi dia juga yang minta kembali" Jawab Launa sedikit terkekeh. Launa sedikit terkejut mendengar permintaan Elvano, padahal dulu Elvano sendiri yang memintanya pergi, manusia bumi emang kadang gini ya.
"Please Na, kasih gue satu kesempatan!" Mohon Elvano sambil menggenggam erat tangan Launa
"Gue sayang banget sama lo Na, gue mau lo" Tutur Elvano. Mereka berdua duduk bersampingan di bangku halte.
"Izinin gue buat perbaiki semuanya Na, gue janji ngga bakal ninggalin lo lagi, gue janji ngga bakal bikin mata lo yang indah ini netesin air mata lagi. Gue nyesel banget udah ninggalin lo Na" Ucap Elvano lagi, ia sangat menyesali perbuatannya.
"KENAPA BARU NYESEL SEKARANG HA, KENAPA?! Dulu lo kemana aja, kemana aja waktu gue butuh lo? Tanya Launa dengan penuh emosi, emosi yang ia tahan sedari dulu. Elvano terbungkam ketika mendengar pertanyaan itu.
"Ngga ada yang perlu disesali, percuma! Mau senyesel apapun lo ngga akan bisa ngerubah takdir Ra, semuanya udah terjadi dan jadi takdir paling menyakitkan buat gue" Kata Launa. Air matanya tak mampu lagi ia bendung. Melihat Launa menangis Elvano langsung menarik Launa kedalam pelukannya. Hatinya terasa sakit melihat gadis yang dicintainya menangis karena dirinya.
"Lo jahat Ra, lo jahattt" Ucap Launa
"Maaf Na, maafin gue. Gue emang ngga punya hati, gue cowok terbrengsek yang mungkin baru pernah lo temui. Sekali lagi gue minta maaf, gue nyesel udah nyakitin lo" Elvano sangat menyesal telah meninggalkan gadis yang tulus mencintainya. Hari-harinya selalu dihantui rasa penyesalan itu.
Elvano melepas pelukannya.
"Kali ini izinin gue buat kembaliin senyum lo yang udah gue curi ya Na? gue mau lo tersenyum lagi" Tanya Elvano pelan
"Maaf, gue ngga bisa" Jawab Launa dengan kepala tertunduk
"Kenapa Na, apa perasaan itu udah ngga ada? " Tanya Elvano lagi
"Kalau ditanya perihal perasaan, jujur gue juga masih suka sama lo Ra, perasaan itu akan abadi di hati gue" Jelas Launa. Ada perasaan senang ketika Launa mengatakan bahwa dirinya masih menyukainya.
"Kalau masih ada kenapa lo ngga ngizinin gue buat memperbaiki semuanya Na? " Elvano bingung dengan gadis dihadapinya ini, dia bilang kalau dirinya masih menyukainya tapi kenapa dia menolak untuk kembali bersatu.
"Ada banyak hal yang menjadi alasannya dan yang jelas banyak rasa sakit yang ngubah gue" Jawab Launa.
"Gue mohon Na, kasih gue satu kesempatan lagi, gue janji gue bakal berubah!" Ucap Elvano memohon ia sangat berharap Launa mau memberinya kesempatan.
Launa membalasnya dengan gelengan pelan
"Gue mohon Na, gue mau bayar semua luka yang udah gue kasih ke lo"
"Gue mohon kasih gue satu kesempatan lagi Na. Gue mohon!!"Kata Elvano memohon sambil berlutut di hadapan Launa.
"Bangun Ra, jangan gini! " Perintah Launa. Launa berdiri dari duduknya dan menarik Elvano untuk berdiri lalu mengajaknya duduk kembali.
"Gue mohon Na, gue mohon banget sama lo!! "
"Maaf, gue ngga bisa Ra" Sebenarnya dirinya sangat ingin kembali tetapi ia takut, takut kalau dirinya akan membuat Elvano terluka karena sikapnya akibat dari luka di hatinya yang belum sembuh dan ia juga takut akan kembali merasakan luka itu lagi.
"Maafin gue Ra, gue belum bisa nerima lo lagi untuk saat ini. Gue mau sendiri dulu" Jelas Launa
"Tapi kenapa Na? " Tanya Elvano penasaran
"Gue ngga mau nyakitin lo Ra, gue ngga mau ada yang terluka diantara kita" Jawab Launa. Launa tak ingin Elvano merasakan sakit seperti yang dirinya rasakan
"Ngga Na, lo ngga akan nyakitin gue. Ayo kita ulang masa indah itu sekali lagi Na! " Ajak Elvano. Ia masih sangat berharap dirinya diberi kesempatan oleh Launa
"Ngga Ra, gue tetep ngga bisa. Gue terlalu takut" Kata Launa membuat Elvano putus harapan
"Tapi gue cinta sama lo Na, gue mau lama sama lo" Ucap Elvano, masih belum menyerah.
"Gue juga cinta sama lo Ra, bahkan disaat gue denger lo suka sama perempuan lain, itu sama sekali ngga ngebuat rasa ini berkurang, sedikitpun" Jelas Launa. Perasaan Launa ngga akan pernah bisa berubah.
"Tapi maaf, gue belum bisa buat ngulang masa itu Ra. Masa itu memang indah tapi tidak dengan akhir ceritanya, endingnya terlalu sakit buat gue terima. Rasa sakit itu udah ngubah pandangan gue tentang cinta Ra" Kata Launa. Ia merasa dirinya sudah begitu jahat kepada Elvano. Tapi mau bagaimana lagi ia harus memaksakan dirinya untuk sedikit memberi jarak untuk Elvano agar ia tidak terluka karena sikapnya.
"Sekali lagi gue minta maaf sama lo, untuk saat ini gue belum bisa ngasih lo kesempatan. Gue ngga mau nyakitin lo gue mau lo bahagia. Bisa kan bahagia tanpa gue? Pasti bisa la, dulu lo juga mau gue gini kan Ra hehe. Jangan sedih Ra harusnya lo seneng gue kaya gini, harusnya lo seneng udah ngga ada lagi yang gangguin hidup lo. Sekarang lo harus bahagia tanpa gue, gue juga akan bahagia, mungkin" Ucap Launa
Hati Elvano bagaikan tertikam ratusan pedang berkali kali, sakit, sakit sekali. Gadis yang ia harapkan bisa kembali bersamanya ternyata lebih memilih untuk menjauhkan diri darinya. Tapi ini juga salah dirinya, kalau saja dulu ia tak meninggalkannya mungkin hal ini ngga akan terjadi.
"Tapi gimana kalau bahagianya gue itu lo Na? " Tanya Elvano masih mengharapkan kesempatan darinya.
"Ra, dengerin gue!. Dulu lo minta gue buat lupain lo kan, dulu lo mau gue pergi dari hidup lo kan? Sekarang gue udah ngelakuin apa yang lo mau Ra tapi untuk soal ngelupain lo gue ngga ngelakuin itu, gue ngga mau ngelupain lo. Sebelum lo nyesel kaya sekarang ini lo kan bisa bahagia tanpa gue? Lo bisa ketawa disaat gue nangis karena lo ninggalin gue. Jadi sekarang lo juga harus bisa Ra! Gue mohon sama lo bahagia tanpa gue ya seperti yang lo mau dulu!. Gue bakal tetap disini, hati gue tetep buat lo Ra, selalu buat lo. Gue mau lo lama, gue mau cinta gue habis di lo. Gue cinta sama lo gue mau selalu sama lo, tapi maaf, maaf gue ngga bisa ngasih lo kesempatan seperti yang lo minta, gue terlalu takut. Untuk sekarang gue pengin sendiri dulu, gue pengin sembuh dulu. Maafin gue, gue udah jahat banget sama lo, gue egois, gue tega sama lo dan makasih buat semua kenangan yang udah lo kasih ke gue. Sekarang perbaiki diri masing-masing dulu ya biar bisa sama-sama pantas memiliki! Semoga lo selalu dikelilingi orang-orang baik kaya lo dan gue harap lo selalu bahagia, terus senyumnya tolong dijaga ya jangan sampai ilang!! " Tutur Launa sambil menahan sesak didadanya. Launa tak ingin seperti ini, tetapi ia belum bisa buat kembali mempercayai laki-laki yang telah mengukir luka dihatinya. Dirinya hanya tak ingin Elvano terluka karenanya, lebih baik dirinya saja yang terluka daripada harus melihat laki-laki yang dicintainya terluka. Launa berharap ini adalah jalan terbaik untuk dirinya dan juga Elvano.
"Tapi gue ngga bisa tanpa lo Na" Ucap Elvano
"Bisa Ra, pasti bisa. Perpisahan ngga akan selamanya buruk kok, lo harus bisa. Okey? "
"Ngga bisa kita sekali lagi ya Na? " Tanyanya masih berharap
"Maaf" Balas Launa sambil menggelengkan kepalanya.
Elvano menghembuskan nafas pasrah. Elvano hancur, kehancuran yang dibuat oleh dirinya sendiri. Harapannya saat ini sudah tak ia harapkan lagi akan terwujud, semuanya memang sudah berakhir dan tak akan pernah kembali bisa dimulai. Cinta itu menerima segala hal yang sudah menjadi pilihannya kan?
"Gue pergi ya Ra, semoga Bandung menjaga lo dengan baik dan membawa lo kepada kebahagiaan yang abadi. Gue sayang lo Ra" Pamit Launa sambil menahan cairan bening yang hampir tumpah. Launa berdiri diikuti Elvano.
"Sayang lo juga Launa" Ucap Elvano sambil tersenyum manis. Senyum yang penuh dengan kebohongan, senyum yang menutupi segala luka di hatinya.
Launa melangkahkan kakinya meninggalkan Elvano seorang diri. Saat hendak menyeberang, ia menoleh kearah Elvano dan tersenyum manis. Elvano yang sadar kalau Launa tersenyum kepadanya pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis.
"Senyuman lo palsu Ra" Gumam Launa dalam hati. Launa mengerti sehancur apa hati Elvano sekarang, mungkin sudah tak berbentuk lagi.
"Bandung, gue titip dia jagakan dia dengan baik dan ajak dia bahagia" Batinnya sambil tersenyum menatap langit.
Tanpa melihat kanan dan kiri, Launa berjalan menyeberangi jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan.
Tin Tin...
Brakk
Elvano bagaikan tersambar petir, kakinya melemas seolah tak mampu ia ajak berdiri. Elvano memaksakan kakinya yang terasa seperti jelly itu dan berlari sekuat yang ia bisa.
"LAUNAAAA! " Elvano berteriak histeris.
*****
Langit hitam menampakkan cahaya indah dari bulan dan bintang yang bertaburan. Elvano terbangun dari tidurnya dan mengerjap kaget, keringat dingin membasahi dahinya. Ia berusaha untuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Sialan, ternyata cuma mimpi" Gumam Elvano sambil mengusap keringat didahinya dengan kasar.
Ternyata tadi hanyalah mimpi buruk yang sangat begitu menyakitkan. Elvano tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya dikehidupan nyata. Untunglah hanya sebuah mimpi buruk biasa, mungkin karena dirinya tidur pada sore hari. Elvano sangat takut kehilangan Launa, gadis yang begitu dicintainya. Bagi Elvano Launa lah jantung hatinya, jadi Elvano tak bisa hidup tanpa seorang Launa.
*****
by Rohana
Komentar
Posting Komentar